Oplus_131072
Djavanews.com,CIKARANG UTARA – Sejumlah orang tua siswa SMAN 3 Cikarang Utara meluapkan kekecewaan dan kemarahan terkait kegiatan sekolah berkedok olahraga pada hari libur yang diduga kuat dijadikan ladang bisnis oleh pihak sekolah. Para orang tua mengaku anak-anak “dituntut” mengikuti kegiatan senam setiap hari Minggu dengan pungutan biaya Rp10.000 hingga Rp25.000 dengan iming-iming hadiah dourprize.
Salah satu orang tua siswa menyampaikan rasa keberatan yang mendalam atas praktik tersebut.
“Kami sangat keberatan dengan adanya kegiatan sekolah pada hari libur. Meski biayanya tidak terlalu besar, tapi kalau dilakukan setiap Minggu jelas sangat membebani kami. Pihak sekolah seharusnya mengerti kondisi perekonomian yang sedang sulit, bukan malah mencari keuntungan dan menyengsarakan orang tua,” ungkapnya dengan nada kesal.
Tak berhenti sampai di sana, kontroversi berlanjut pada kegiatan renang siswa pada Sabtu, 22 November 2025. Para siswa diharuskan mengikuti kegiatan tersebut dengan membayar tiket sebesar Rp40.000 – Rp45.000. Tiket dibeli langsung oleh siswa di loket kolam renang di Perumahan Puri Nirwana, diduga sebagai modus agar tidak terlihat seperti pengumpulan uang oleh guru.
Informasi yang dihimpun menyebutkan adanya fee dari pihak kolam renang untuk pihak sekolah, meski nominalnya enggan disebutkan oleh pengelola kolam. Dugaan kongkalikong antara pihak sekolah dan pihak kolam pun semakin kuat, dan dianggap sebagai pola baru untuk menghindari kontrol media serta mengesankan seolah-olah siswa membeli tiket secara mandiri.
Langkah sekolah menggelar kegiatan berbayar pada hari libur dan kemudian menepis upaya konfirmasi dari awak media semakin memperkuat kecurigaan publik. Saat hendak dikonfirmasi, Kepala Sekolah SMAN 3 Cikarang Utara,Saepuloh menolak untuk ditemui. Menurut keterangan dari humas,”Kepala Sekolah lagi banyak kerjaan”.ujar Karyadi.
Selain itu bahkan pihak sekolah terkesan menutupi keberadaannya. Sikap tertutup tersebut menimbulkan tanda tanya besar.
Apakah benar ada persekongkolan internal untuk meraup keuntungan pribadi dengan mengorbankan siswa dan orang tua?
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMAN 3 Cikarang Utara belum memberikan penjelasan resmi, dan orang tua berharap instansi terkait segera turun tangan untuk menghentikan praktik yang dinilai merugikan dan mencoreng dunia pendidikan.(AJ)

