Bulan Syaban selalu mendapat perhatian khusus dalam tradisi keislaman. Ia berada tepat sebelum Ramadan dan kerap dipahami sebagai masa persiapan rohani.
Di bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan sunnah seperti puasa, membaca Al-Qur’an, istighfar, serta sholat sunnah.
Salah satu amalan yang paling sering dibicarakan adalah sholat Nisfu Syaban, yang dikerjakan pada malam pertengahan bulan Syaban.
Pembahasan seputar sholat Nisfu Syaban memang tidak lepas dari perbedaan pandangan ulama. Ada yang menekankan keutamaannya, ada pula yang mengingatkan soal kehati-hatian terhadap dalil tertentu.
Meski begitu, banyak ulama sepakat bahwa menghidupkan malam Nisfu Syaban dengan ibadah merupakan perbuatan baik, selama dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di sinilah pentingnya memahami tata cara sholat Nisfu Syaban secara proporsional, tenang, dan tidak berlebihan.
Waktu Pelaksanaan Sholat Nisfu Syaban
Sholat Nisfu Syaban dikerjakan pada malam tanggal 15 bulan Syaban. Dalam penanggalan Hijriah, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam.
Artinya, malam Nisfu Syaban dimulai selepas Maghrib pada tanggal 14 Syaban dan berakhir saat terbit fajar pada tanggal 15 Syaban.
Untuk tahun 2026, 14 Syaban jatuh pada Senin, 2 Februari, sehingga pelaksanaannya dapat dilaksnakan selepas Maghrib pada tanggal 2 Februari 2026.
Banyak ulama menganjurkan agar ibadah malam tersebut dilaksanakan dengan tenang, baik secara sendiri maupun berjamaah, tanpa mengganggu kewajiban utama.
Niat Sholat Nisfu Syaban
Niat merupakan langkah pertama dan fundamental dalam setiap ibadah sholat. Untuk sholat sunnah Nisfu Syaban, niat yang dibacakan akan berbeda tergantung pada posisi seseorang — apakah menunaikan sholat sendiri, menjadi imam, atau menjadi makmum.
Niat sholat sendiri:
أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatan nishfi sya’baana rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi taala.
Artinya: “Saya niat sholat sunnah Nisfu Syaban dua rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah Taala.”
Niat sholat berjamaah sebagai imam:
أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatan nishfi sya’baana rak’ataini imaaman lillahi taala.
Artinya: “Saya niat sholat sunnah Nisfu Syaban dua rakaat sebagai imam, karena Allah Taala.”
Niat sholat berjamaah sebagai makmum:
أُصَلِّي سُنَّةَ نِصْفِ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatan nishfi sya’baana rak’ataini ma’muuman lillahi taala.
Artinya: “Saya niat sholat sunnah Nisfu Syaban dua rakaat sebagai makmum, karena Allah Taala.”
Tata Cara Sholat Nisfu Syaban
Sholat sunnah Nisfu Syaban pada dasarnya dikerjakan secara dua rakaat dengan satu salam. Jumlah rakaat yang dilaksanakan bisa beragam — mulai dari dua rakaat hingga seratus rakaat, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Untuk yang mengerjakan seratus rakaat, prosesnya dilakukan sebanyak lima puluh kali salam.
Berikut tata cara pelaksanaannya secara berurutan:
1. Bacakan niat sholat sunnah Nisfu Syaban sesuai dengan posisi Anda (sendiri, imam, atau makmum).
2. Laksanakan takbiratul ihram dengan mengucapkan “Allahu Akbar” sambil mengangkat kedua tangan.
3. Baca Surat Al-Fatihah dengan tenang dan khusyu.
4. Setelah Al-Fatihah, lanjutkan dengan membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 10 kali pada setiap rakaat.
5. Lanjutkan dengan rukuk dan bacaan tasbihnya.
6. Berdiri kembali sambil membaca doa i’tidal.
7. Turunkan diri untuk sujud pertama, kemudian duduk di antara dua sujud, dan lanjutkan sujud kedua.
8. angkit untuk rakaat kedua. Ulangi langkah yang sama: baca Al-Fatihah, lanjut dengan Al-Ikhlas sebanyak 10 kali, hingga sujud kedua selesai.
9. Duduk untuk tahiyat akhir dan akhiri sholat dengan salam ke kanan dan ke kiri.
10. Jika Anda menunaikan lebih dari dua rakaat, ulangi prosesi tersebut dengan pola yang sama hingga selesai.
Selain itu, bagi mereka yang hanya mampu mengerjakan dua rakaat saja, terdapat alternatif bacaan. Pada rakaat pertama, setelah Al-Fatihah, dapat membaca Surat Al-Kafirun. Sementara pada rakaat kedua, dilanjutkan dengan Surat Al-Ikhlas. Variasi ini tetap dipandang sah dan dapat diamalkan.
Bacaan Doa Setelah Sholat Nisfu Syaban
Setelah sholat selesai, umat Muslim juga dianjurkan membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali. Setiap pembacaan disertai dengan niat yang berbeda: pembacaan pertama diniati untuk memohon panjang umur, pembacaan kedua untuk kelancaran rezeki, dan pembacaan ketiga untuk mendapatkan husnul khatimah atau akhir hidup yang baik.
Doa yang dianjurkan setelah sholat dan pembacaan Yasin adalah:
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الْطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَأَمَانَ الْخَائِفِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيْ فِي الْرِّزْقِ فَامْحُ. اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَاقْتِتَارِ رِزْقِي وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَات. فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَاب. إِلَهِي بِالْتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ الْنِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، اصْرِفْ عَنِّي مِنَ الْبَلَاءِ مَا أَعْلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الْرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. آمِيْن.
Allaahumma yaa dzal manni walaa yamunnu ‘alaika yaa dzal jalali wal ikraam, yaa dzath-thauli wal in’aam laa ilaha illaa anta, dzhahral laajiin, wa jaarul mustajiiriin, wa amaanal khaa’ifiin. Allaahumma in kunta katabtanii ‘indaka fi ummil kitaabi syaqiyyan au mahruuman au mathruudan au muqtarran ‘alayya fir-rizqi famhu. Allaahumma bi fadlika fi ummil kitaabi syaqaawatii wa hirmaanii wa thardii wa iqtiitaari rizqii wa ats-bitnii ‘indaka fi ummil kitaabi sa’iidan marzuuqan muwaffaqal lil khairaat. Fa innaka qulta wa qaulukal haqqu fi kitaabikal munzali ‘alaa nabiyyikal mursali, yamhullaahu maa yasyaa’u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul kitaabi. Ilaahii bittajallil a’dzhami fi lailatin nishfi min syahri sya’baanal mukarramil latii yufraqu fiihaa kullu amrin hakiim wa yubramu, ishrif ‘annii minal balaa’i maa a’lamu wa maa laa a’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuubi birahmatika yaa arhamar rahimiin. Wa shallallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallama. Aamiin.
Artinya: “Ya Allah, wahai Dzat Pemilik anugerah yang tiada seorang pun memberi anugerah kepada-Mu, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah tempat berlindung bagi para pengungsi, pelindung bagi mereka yang memohon perlindungan, dan pemberi keamanan bagi mereka yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah mencatat diriku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka, terhalang, terusir, atau disempitkan rezekinya, maka hapuskanlah. Ya Allah, dengan karunia-Mu, hapuslah dari Ummul Kitab segala kecelakaan, kekurangan, keterpurukan, dan kesempitan rezekinya yang melekat padaku. Tetapkanlah diriku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang berbahagia, sejahtera, dan ditolong untuk melaksanakan segala kebaikan. Karena sungguh Engkau telah berfirman, dan firman-Mu adalah kebenaran, dalam Kitab-Mu yang diturunkan kepada Nabi-Mu yang diutus: Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab. Wahai Tuhanku, demi keagungan yang muncul pada malam pertengahan bulan Syaban yang mulia ini, saat segala urusan yang ditetapkan dan dihapuskan dijelas rincikan, jauhkanlah dariku bencana — baik yang aku ketahui maupun yang tidak, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi. Dengan rahmat-Mu, wahai yang paling Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin.”
Hukum Sholat Sunnah Nisfu Syaban
Hukum sholat sunnah Nisfu Syaban kerap menjadi bahan diskusi di kalangan ulama. Mayoritas sepakat bahwa menghidupkan malam Nisfu Syaban adalah amalan sunnah. Adapun perbedaan pendapat lebih banyak berkisar pada jumlah rakaat dan dasar dalil tertentu.
Sebagian ulama mengkritisi hadits-hadits yang menjelaskan sholat dengan jumlah rakaat sangat banyak. Namun, mereka tetap membolehkan sholat sunnah dua rakaat atau lebih pada malam tersebut, selama tidak diyakini sebagai kewajiban khusus. Pendekatan ini menunjukkan sikap moderat: ibadah tetap berjalan, kehati-hatian ilmiah tetap dijaga.

