Djavanews.com || Cikarang Utara — Tumpukan sampah di kawasan Pasar PLN, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, dikeluhkan pedagang dan pengunjung. Pasalnya, sampah yang didominasi limbah organik pasar tersebut sudah beberapa hari tidak diangkut dan setiap hari justru semakin menggunung.
Pantauan di lokasi menunjukkan, sampah berserakan di area terbuka dengan kondisi basah, berlumpur, dan mengeluarkan bau menyengat. Plastik merah, sisa sayuran, dan limbah pasar bercampur tanpa pengelolaan, menciptakan pemandangan kumuh yang jauh dari standar kebersihan fasilitas publik.

“Sudah beberapa hari tidak diangkut. Setiap hari nambah terus. Baunya menyengat, apalagi kalau siang,” keluh salah satu pedagang.
Kondisi ini dinilai bukan sekadar persoalan estetika, melainkan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat. Tumpukan sampah berpotensi menjadi sarang lalat, tikus, dan sumber penyakit, terlebih Pasar PLN merupakan pusat aktivitas ekonomi dan lalu lintas warga setiap hari.
Minimnya pengangkutan sampah ini memunculkan dugaan kelalaian pengelola pasar dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam menjalankan kewajiban pelayanan kebersihan. Padahal, pengelolaan sampah pasar seharusnya menjadi prioritas karena menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap harinya.

Warga mendesak agar DLH Kabupaten Bekasi dan pihak pengelola pasar segera turun tangan, tidak menunggu keluhan meluas atau dampak kesehatan muncul. Jika pembiaran terus terjadi, kondisi ini dikhawatirkan berubah menjadi krisis lingkungan di tengah kawasan padat aktivitas.
Sementara itu, Pengelola mengakui bahwa pengangkutan sampah saat ini hanya dapat dilakukan satu kali dalam sehari dan itu pun terbatas pada dua dari tiga titik tumpukan sampah.
“Sampah yang berada di depan SGC dan di area dalam masih dapat diangkut, sementara tumpukan sampah di bagian belakang belum dapat terlayani pengangkutannya.”kata pria yang biasa dipanggil Konde kepada Djavanews.com pada Jum’at (23/01/2026) malam.

Pengangkutan sampah tersebut dilakukan menggunakan armada swasta, dengan biaya sekali angkut (satu unit mobil) berkisar antara Rp650.000 hingga Rp700.000.
Ia juga mengakui bahwa pengangkutan sampah baru akan kembali dilakukan setelah armada dari Dinas Perdagangan masuk ke lokasi.
Sementara itu, armada dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) disebut sudah tidak masuk ke area pasar selama kurang lebih dua minggu terakhir.
Lebih lanjut, pengelola mengakui bahwa tumpukan sampah di lokasi tersebut tidak diangkut selama delapan hari, sehingga menyebabkan volume sampah terus bertambah dan menumpuk.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak DLH Kabupaten Bekasi terkait alasan terhentinya pengangkutan sampah tersebut.(AJ)

