Oleh: [Aang Juanda /Pimpinan Perusahaan/Pemimpin Redaksi Djavanews.com]
Kita sedang menyaksikan pergeseran lanskap informasi yang mengkhawatirkan. Di era serba digital ini, media mainstream, yang memegang teguh kaidah jurnalistik dan verifikasi, semakin terpinggirkan oleh arus konten media sosial. Ini bukan sekadar masalah teknis atau tren pemasaran, melainkan ancaman serius terhadap kesehatan ekosistem informasi publik.
Saya menyoroti adanya perlakuan tidak setara (diskriminasi) dari pihak korporasi, instansi pemerintah, maupun pelaku industri, yang lebih mengutamakan kemasan estetik dibandingkan substansi.
Diskriminasi Fasilitas: Kami mencatat adanya tren di mana media mainstream sering kali hanya diberikan fasilitas standar, bahkan sering tidak diakomodir (tidak diundang/dipersulit aksesnya) dalam kegiatan penting.
Eksklusivitas Influencer: Sebaliknya, pengelola media sosial (influencer/buzzer) diundang ke acara yang jauh lebih eksklusif—seperti di hotel berbintang atau acara tertutup—dan diberikan fasilitas yang jauh lebih baik.
Kredibilitas vs Popularitas: Publik berisiko dibanjiri informasi yang belum terverifikasi, yang “dijual” hanya berdasarkan engagement atau views, bukan akurasi fakta.
Matinya Profesionalisme: Jangan sampai demi konten yang estetik dan viral, nilai-nilai profesionalisme pers diabaikan. Informasi yang melalui proses check and recheck (jurnalistik) kini kalah dengan informasi “instan” yang berpotensi menyesatkan.
Media mainstream adalah guardian of truth. Ketika media mainstream dipinggirkan, publik yang akan dirugikan.
Kami meminta semua pihak untuk menghargai peran media jurnalistik dan tidak memberikan perlakuan tidak setara yang merusak ekosistem informasi yang sehat.
Veritas Liberabit Vos (Kebenaran akan memerdekakan Anda).Analisis Konteks (Berdasarkan Search Results Mei 2026):
Ketimpangan Perlakuan: Peneliti dan praktisi PR mencatat pergeseran di mana influencer dianggap lebih “personal” dan estetik, sehingga mendapat prioritas pemasaran dibanding media konvensional.
Resiko Informasi: Pengaruh influencer bisa membawa dampak negatif seperti penyebaran hoaks atau disinformasi karena kurangnya tanggung jawab editorial seperti media profesional.
Kekuatan Mainstream: Meskipun sering mendapat perlakuan kurang sepadan, media mainstream tetap diakui memiliki kekuatan pada verifikasi fakta dan akurasi.
Tantangan Pers: Dewan Pers mencatat peningkatan pengaduan hingga 100% dan mengakui adanya pergeseran audiens ke platform digital, namun menegaskan media arus utama tetap rujukan utama publik.

